Tafsir Singkat Surat An Nisa’ Ayat 8 dan Terjemah Per Kata

tafsir singkat surat an nisa ayat 8

Surat An Nisa’ ayat 8 adalah ayat yang memerintahkan berbuat dan bertutur kata baik saat pembagian warisan. Berikut ini terjemah per kata dan tafsir singkat Surat An Nisa’ ayat 8.

Terjemah Surat An Nisa’ Ayat 8

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (QS. An Nisa’: 8)

Baca juga: Tafsir Singkat Surat Al Isra’ ayat 26-27

Terjemah Per Kata Surat An Nisa’ ayat 8

Berikut ini terjemah per kata Surat An Nisa’ ayat 8:

dan apabilaوَإِذَا
hadirحَضَرَ
pembagian ituالْقِسْمَةَ
yang adaأُولُو
hubungan kerabatالْقُرْبَى
dan anak-anak yatimوَالْيَتَامَى
dan orang-orang miskinوَالْمَسَاكِينُ
maka berilah mereka rezekiفَارْزُقُوهُمْ
darinyaمِنْهُ
dan ucapkanlahوَقُولُوا
kepada merekaلَهُمْ
perkataanقَوْلًا
yang baik, patutمَعْرُوفًا

Baca juga: Tafsir Singkat Surat Al Falaq

Tafsir Singkat Surat An Nisa’ Ayat 8

Surat An Nisa’ ayat 8 berisi perintah berbuat dan bertutur kata baik saat pembagian warisan.

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya)

Ayat ini memerintahkan memberikan bagian kepada kerabat yang bukan ahli waris, anak yatim, dan orang miskin yang hadir daat pembagian warisan. Pemberian bagian di sini bukanlah seperti warisan yang jumlahnya besar tetapi sekadarnya.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang Surat An Nisa’ ayat 8 ini. Sebagian ulama berpendapat ayat ini telah di-mansukh, tetapi banyak yang berpendapat ayat ini muhkamat dan tetap berlaku. Imam Bukhari dan Az Zuhri termasuk yang berpendapat yang kedua. Bahwa ayat ini muhkamat dan tetap berlaku. Buya Hamka dan Sayyid Qutb juga menegaskan pendapat serupa.

Dari yang berpendapat tidak mansukh, ada perbedaan lagi apakah hukum memberikan bagian ini wajib atau sunnah. Ibnu Katsir menjelaskan, sebagian ulama berpendapat bahwa ini anjuran yang hukumnya sunnah. Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar juga mencantumkan pendapat sebagaian ulama bahwa hukumnya sunnah. Namun, beliau juga sependapat dengan Said bin Jubair bahwa hukumya wajib.

Mengapa kerabat yang bukan ahli waris, anak-anak yatim, dan orang miskin yang hadir harus mendapatkan pemberian? Buya Hamka menjelaskan, pemberian itu adalah obat untuk hati dan menghilangkan iri hati.

“Obatilah hati mereka dan usahakanlah menghilangkan rasa iri hati mereka karena menjadi penonton orang membagi-bagi rezeki dengan tiba-tiba karena kematian seseorang,” tulis Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar.

Jika harta warisannya tidak berlimpah, setidaknya pemberian itu dalam bentuk jamuan makan. Sebagaimana perkataan Ibnu Sirin, ketika Ubaidah mengurus suatu surat wasiat, ia memerintahkan menyembelih kambing dan membagikan makanan itu kepada kerabat orang tersebut, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.

وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.

Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga lisan. Berkata yang baik atau diam. Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menjelaskan, Allah memerintahkan qaulan ma’rufa kepada semua orang, terlebih dengan para kerabat. Qaulan ma’rufa (قولا معروفا) adalah perkataan, permintaan maaf dan penolakang yang baik, halus, sopan, dan tidak menyinggung perasaan.

Baca juga: Ayat Kursi

Penutup

Surat An Nisa’ ayat 8 ini menunjukkan betapa mulianya ajaran Islam sekaligus menjaga hubungan antar sesama. Islam tidak membiarkan celah timbulnya keretakan hubungan kecuali menutupnya. Ketika ada kerabat bukan ahli waris apalagi jika mereka tergolong dhuafa menyaksikan pembagian warisan yang banyak, bisa timbul keinginan bahkan iri hati. Islam menutup celah ini dengan perintah sedekah kepada mereka.

Yang tak kalah penting, memelihara hubungan dengan menjaga lisan. Mengucapkan perkataan yang baik kepada kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Sehingga mereka merasa nyaman dalam kesetaraan dan semakin kuatlah persatuan.

Untuk penjelasan lebih lengkap beserta isi kandungan ayat ini, silakan baca di artikel Surat An Nisa’ Ayat 8. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/QuranHadits.id]